MERAWAT RINDU (GURU KELILING PART 2)

 

MERAWAT RINDU

#GULINGPART 2

 

Oleh : UTARIYATI, M.Pd

           Sampai bulan september 2020, belum ada tanda-tanda bahwa kegiatan belajar di sekolah akan segera di mulai, hal ini disebabkan jumlah korban terpapar covid-19 semakin hari semakin bertambah. Hal ini mengakibatkan kegiatan pelayanan publik  dihentikan sementara, termasuk layanan pendidikan.

Mulai dari pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD, SMP, SMA bahkan Perguruan Tinggi lebih banyak menggunakan Kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dan Belajar Dari Rumah (BDR). Sebagai Guru SD dan memegang kelas 1(kelas awal) sungguh sangat prihatin sekali, sebab waktu dikelas awal kita memberikan pondasi dasar untuk kelas-kelas selanjutnya. Akan tetapi keadaan tidak memungkinkan. Sekali waktu berkunjung ke rumah siswa adalah inisiatif dan bentuk tanggung jawab guru untuk bisa melihat perkembangan anak didiknya, dengan tetap menggunakan protokol kesehatan.

            Pagi sekali aku sudah siapkan diri untuk kegiatan hari ini. Masker, handsanitezer, jaket dan sarung tangan sudah siap menemani perjalananku hari ini. Setiap hari  kamis   di agendakan untuk “Guling” yaitu Guru Keliling. Karena di Kelas 1 baru jumlah murid 26 siswa maka aku bagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok Timur, Kelompok Tengah dan Kelompok Barat.  Kelompok Timur adalah kelompok yang lokasinya terjauh dari sekolah, anggota kelompok ini ada 8 siswa yaitu 3 putra dan 5 putri. Kelompok Tengah berjumlah 9 siswa, terdiri dari 3 putra dan 6 putri, mereka yang datang adalah siswa yang lokasi rumahnya terdekat. Kelompok 3 terdiri dari 9 siswa, terdiri dari 4 putra dan 5 putri. Kelompok 3 inipun cukup jauh jaraknya dengan kelompok 2(kelompok tengah).

            Tepat pukul 08.00 WIB aku sudah sampai di kelompok timur, mereka sudah menunggu dengan segenap rasa rindu terhadap bu gurunya. Begitu aku turun dari motorku dan baru selesai memarkir sepeda dihalaman rumah wali murid, anak-anak menghambur memelukku...

            “Bu Guru...     “, mereka berteriak dan berebut merangkulku..., ada rasa hangat, terharu, teriris, bahagia dan bangga campur aduk rasanya di dada ini. Kusalami mereka satu persatu dan ku tepuk pipinya sambil tersenyum kusapa mereka....

            “Assalaamu alaikum...”,

            “Waalaikum salam...I love you”, jawabnya serentak

“Apa kabar anak2....?” lanjutku

“Baiiiik, Alhamdulillah, luar biasa, Allahu Akbar” mereka menjawab kompak sekali.

Sungguh, rasa rindu ini begitu membuncah. Tak ketinggalan wali murid juga secara bergantian menyalamiku, mereka juga mempersilahkan aku untuk masuk di tempat yang sudah di sediakan, yaitu di teras depan rumah orang tua Andre, salah satu wali murid dari kelompok timur.

            Selanjutnya akupun melanjutkan materi kegiatan belajar dengan suasana santai, aku upayakan durasi 60 menit harus bisa dilewati dengan lancar mengingat masih ada dua kelompok lagi yang harus aku kunjungi. 30 menit pertama aku curahkan kepada anak-anak, 10 menit aku curahkan kepada wali murid untuk tugas mandiri anak  di rumah, sepuluh menit untuk evaluasi dan umpan balik dan selanjutnya bersiap berangkat ke kelompok tengah.

            Lokasi kelompok Tengah, berada di pinggir areal persawahan, masih masuk dari jalan desa. Akan tetapi penduduk di daerah itu sangat padat. Akan tetapi karena pemilik rumah adalah salah satu tokoh masyarakat dan Guru ngaji membuat lokasi ini sangat ramai dan temaptnya luas, bersih dan asri. Beberapa tanaman besar berada dihalaman depan, terasnya cukup luas untuk digunakan sebagai tempat belajar 9 anak di kelompok ini. Tidak jauh berbeda dengan kelompok pertama, baru aja kumatikan motorku, mereka sudah menghambur dan memelukku dengan segenap rasa rindu terhadap bu guru. Begitu aku memasuki rumah besar itu, segenap wali murid menyalamiku dan sudah disiapkan segelah teh hangat dan satu sisir  pisang susu berwarna kuning kecoklatan.

 

Akupun ijin ke tuan rumah untuk menemui anak-anak diteras depan, karena satu jam kedepan harus mengunjungi kelompok barat. Setelah memberikan salam dan melanjutkan materi yang sama dengan kelompok timur, akupun berpamitan. Tiba-tiba...

Salah satu murid putri menghampiriku, dan dua tangannya memegang lengan kiriku

            “Bu guru, besok kesini lagi?” dengan mata polosnya memandangku

            “Bu guru kesini lagi, hari senin sayang....”, jawabku

            Terus dia menghitung jarinya, sambil menyebut hari yang akan dilewati sampai hari senin, dan tiba-tiba dia memelukku  yang berdiri, tentu saja akupun terhenti melangkah

            “Bu guru, besok datang lagi yaa...jangan menunggu hari senin, Udhay janji akan mengerjakan PR dan belajar membaca lagi bu...tapi belajar dengan bu guru”, tangannya erat memelukku dan dia mulai menangis. Akupun menuntunnya duduk di kursi yang ada diteras rumah itu, aku belai rambutnya dan kuusap air matanya, dengan wajah dan bibir tersenyum aku sampaikan pelan-pelan.

            “Fida sayang, bu guru sebenarnya sama ingin bertemu dan mengajar kalian setiap hari, bisa menemanimu di sekolah, berolah raga dan bermain bersama teman-teman seperti biasa, tapi saat ini masih belum boleh karena masih ada Virus Corona yang membahayakan kesehatan kalian. Bukan hanya di desa ini, atau di negara Indonesia bahkan seluruh dunia sekarang ini sedang menghadapi virus yang membahayakan itu. Untuk mencegah penyebarannya, maka tidak boleh keluar rumah atau sekarang disebut tiga M, Yaitu : Mencuci Tangan dengan benar, Memakai Masker dan Menjaga Jarak. Oleh karena itu bu guru hanya 2 kali dalam seminggu mengunjungi anak-anak. Agar masih bisa belajar di rumah, kamu mau tetap sehat kan Fida? Sabar dan berdoa, semoga keadaan ini segera berlalu, Bu guru juga rindu kalian...”, jawabku dan mendekapnya penuh rasa haru. Akupun mengunjungi kalian, bertemu walau hanya sesaat, melihat wajah polosmu, mendengar celotehmu bahkan rengekanmu  adalah kerinduan panjangku yang ingin  ku rawat agar tetap membuatku bersemanagt...

            Setelah menenagkan murid cantik berambut panjang  itu, akupun segera berpamitan ke kelompok barat. Hari sudah menjelang sholat duhur, karena waktu terlambat 30 menit, akupun minta maaf         atas keterlambatan yang tidak di sengaja itu.

            Kelompok barat yang berjumlah 9 anak, inipun hampir sam keadaannya dengan dua kelompok sebelumnya. Akan tetapi kondisi panas tengah hari membuat mereka kurang mood dan sebagian sudah ada yang mengantuk, akupun berinisiatif untuk segera mengumpulkan orang tuanya agar mendekat dan memberikan materi yang akan dikerjakan secara mandiri untuk tiga hari ke depan.Alhamdulillah, semua wali murid yang hadir sangat proaktif dan bisa membaca suasana dan tak lupa aku pesankan agar jangan memaksa anak untuk mengerjakan tugas, biarkan mereka sendiri yang berinisiatif untuk belajar, orang tua wajib mendampinginya. Kalau ada kesulitan tanyakan di group wali murid kelas satu dan bu guru siap membantunya.

            Begitulah catatan Guling hari ini, ada semangat, ada haru, ada bahagia dan ada rindu yang akan ku rawat selalu untuk mereka. Selamat belajar sayang semoga sehat selalu...

#CatatanGulingGurukela01 SDNTAmansari02

#24092020

 

 

Komentar