MAAFKAN MAMA...
MAAFKAN
MAMA ...
By.
Dra. Utariyati, M.MPd
Direktur
PKBM Nurul Huda - Jember
Baru dapat dua paragraf
aku menuliskan laporan kegiatan pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di lembar laporan
yang disediakan sekolah, kulihat ada panggilan masuk di gawaiku
“Assalaamualaikum....”
suara menyapa diseberang
“Waalaikum salam,
dengan siapa nggih?” jawabku, sambil balik bertanya
“Saya Dwi bu, anak-anak
memanggilnya Bu Dwi, saya adalah wali kelas Sebelas IPA5 bu, apakah benar
dengan orang tua Iqbal?” Jawabnya dengan penjelasan yang membuat hatiku agak
dag dig dug.
“Inggih Bu Dwi, adakah
informasi untuk anak-anak bu? Tanyaku memberanikan diri.
“Begini bu, Untuk Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di masa pandemik ini, Sekolah sudah melaksanakan 10 kali pembelajaran Daring, akan tetapi ananda Iqbal , tidak hadir absen online sebanyak empat kali. Dan ada mapel yang nilai ulangan hariannya di bawah KKM. Oleh karena itu, saya harus menghubungi orang tua anak-anak yang nilainya minim. Selanjutnya, saya mohon kerjasama bapak dan ibu agar membantu anak dalam kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR) setiap harinya”. Beliau menjelaskan maksud dan tujuan menelponku. Aku tertegun, dan tidak mampu berkata-kata lagi, ada rasa malu,kecewa, sedih, rasanya tidak percaya dengan yang disampaikan ibu Dwi tadi.
“Inggih bu, selaku
orang tua selama ini saya lengah, sehingga anak-anak menjadi tidak terkontrol
dan mohon petunjuk untuk memperbaiki kesalahan anak saya bu” lanjutku dengan
terus berusaha tenang, walau hati ini berkecamuk anatara percaya dan tidak
terhadap yang dilakukan Iqbal.
“Saya berharap besok
pukul 08.00 WIB saya tunggu di sekolah ya bu..., jangan lupa tetap bermasker”
lanjutnya dengan nada lembut tapi tetap tegas sebagai seorang wali kelas.
“Siap bu Dwi, sekali
lagi saya mohon maaf atas kesalahan anak saya ya bu....” sambil ku pejamkan
mata dan tangan dengan hp masih tetap menempel di telinga kananku. Terasa perih
menyayat hatiku....Dan nada sambungpun
berhenti dari seberang sana.
Semangat yang semula
ingin menyelesaikan laporan kegiatan tadi pagi langsung hilang, mood untuk
melanjutkan tulisan dilayar laptoppun sirna. Ya Allah... semoga semua baik-baik
saja.
Terbayang kembali
kejadian 5 tahun lalu, saat kakaknya di kelas XI SMA sangat tergila-gila dengan
olah raga futsal. Dimana ada turnamen futsal tak kan pernah terlewatkan baik
yang diadakan oleh sekolah maupun di komunitas atau organisasi futsal antar
kabupaten sampai propinsi, sehingga urusan sekolahnya menjadi terabaikan. Dan
tak seorangpun yang bisa mengingatkannya, sampai suatu ketika akupun di panggil
sekolah karena banyak nilai yang dibawah KKM. Dan terulang kembali di semester
berikutnya, sehingga wali kelaspun memanggilku untuk menerima anakku kembali karena sekolah sudah merasa tidak sanggup lagi
mengingatkannya dan tidak mungkin menaikkan dengan nilai minimal. Theemmmm....
Betapa hancurnya perasaanku saat itu, berkeping-keping tak bersisa dan yang
bisa kulakukan adalah menangis, merasa malu, kecewa, sedih dan merasa menjadi
orang tua gagal. Setelah menerima raport dari Kepala Sekolah ...akupun berusaha
sekuat tenaga tegar, dan berusaha dengan sekuat tenaga berjalan sampai di
parkiran dan saaat sudah di belakang kemudi dan ingin kunyalakan mobilku,
mendadak pintu di buka dan kakak memelukku erat...sambil menangis dipangkuan mama.
“Maafkan kakak
ma...selama ini aku lakukan untuk membela nama sekolah, ikut turnamen
dimana-mana tapi semua sia-sia” dengan air mata yang terus berderai aku usap
kepalanya, berusaha memberikan kekuatan bahwa dia tidak sendiri, bagaimanapun
ada mama walau ayah sudah tiada. Dan mama sudah Tak mampu lagi untuk
mengeluarkan kata-kata. Tempat parkir yang luas seolah hanya hanya aku dan
anakku ditempat itu. Ku biarkan anakku meredakan emosinya, 20 menit berlalu
baru kakak mengankat wajahnya dan berkata...
“Ma...katakan sekarang
apa yang harus kakak lakukan, aku akan kerjakan semua ini karena aku tidak
mendengarkan kata-kata mama, aku egois, aku keras kepala, aku hanya
mementingkan diri sendiri...” dia menatapku
“Tunjukkan kalau kamu
memang sayang sama mama dan adik..., tunjukkan klau kamu bisa melewati semua
ini walau bukan di sekolah ini dan tunjukkan bahwa kau layak menjadi contoh
bagi adik...mama percaya kamu bisa, Bisa kan??? Aku memberikan penekanan pada
tiap kalimat yang ku keluarkan, itupun karena ingin memberikan kekuatan kepada
kakak dan perlahan kujalankan mobilku
meninggalkan halaman sekolah yang pernah memberi harapan kepada anakku dan
sekaligus melenyapkan harapan itu.
Adzan
Isya’ terdengar dari corong masjid dekat rumah, berarti sudah satu jam lebih
aku berada di depan laptop. Segera kulangkan kaki untuk berwudlu’ dan segera
sholat isya’.
Dan
selalu mendoakan yang terbaik , Jadikan mereka anak yang sholeh, berguna bagi
agama, bangsa dan negara dan selamatkanlah dunia akhirat.
Perlahan kubuka kamar adik, dia
sangat terkejut saat kulihat sudah bersiap memakai kostum silat yang selama ini
dia banggakan. Sambil duduk ditepi ranjang akupun menyampaikan bahwa Bu Dwi
wali kelasnya baru saja telpon mama dan besok pukul 08.00 WIB berharap bisa
bertemu di sekolah.
“Apakah kau tahu maksud bu Dwi
mengundang mama dan kamu besok dik?” sambil ku tatap wajahnya, ada rona terkejut tapi dia berusaha menyembunyikannya.
“Lho kok adik gak di beri tahu ya
ma...Beliau wali kelas baru menggantikan pak Gafur yang pindah, mungkin ingin
kenalan sama wali murid kelas sebelas IPA 5 ma, jawabnya tenang.
“yakin itu alasannya? Lainnya?”
lanjutku penuh selidik dan belum beranjak dari kamar adik.
“Ya Allah...mama kan yang selalu
mengajarkan, pikirkan yang baik-baik, berkatalah yang baik-baik, kerjakanlah
denganbaik maka kau akan mendapatkan kebaikan” jawabnya sambil terus melanjutkan memakai asesoris seragam
silatnya.
Aku
berusaha mempercayai semua yang dikatakan oleh adik dan berdoa semoga semua
baik-baik saja.
Esok pagi pukul 07.45 di Halaman
parkir Sekolah SMA Negeri 13 , ada beberapa kendaraan yang sudah parkir rapi
walau tanpa juru parkir yang memandunya. Akupun bergegas mencari ruang BK
sesuai petunjuk wali kelas semalam. Ternyata aku tidak sendiri ada beberapa
wali murid yang sudah datang lebih dulu, kamipun mengangguk tanda bersalaman
karena saat pandemi kitaharus menggunakan protokol kesehatan, bermasker, cuci
tangan dan jaga jarak. Sehingga yang datang ke sekolahpun terjadwal untuk
menghindari kerumumnan orang.
Sampai batas waktu pukul delapan,
terlihat hanya ada 5 wali murid yang dipanggil hari ini untuk kelas adik.
“Wali Muhammad Iqbal di persilahkan
masuk” akupun hampir tersentak karena ada nama Iqbal juga selain nama adik,
Iqbal Mahardika. Sekitar 15 menit kemudian walimurid itu keluar dengan wajah
yang sulit di artikan.
Wali Sovita dipersilahkan masuk”,
akupun semakin penasaran karena wali murid pertama laki-laki dan tidak mau
berbagi cerita dan langsung pergi setelah menganggukan kepala kepada wali murid
yang lain.
Sudah empat wali murid yang
dipanggil kedalam ruang BK, entah apa yang telah mereka bicarakan.
Bismillah...semoga semua baik-baik saja doaku dan tiba giliranku
“Wali Iqbal Mahardika, dipersilahkan
masuk” akupun gak sabar ingin bertemu dengan bu Dwi wali kelas yang baru. Aku
tatap wajah teduh di depanku dan kuucapkan salam sambil merapatkan kedua
tanganku dan masker masih terpasang. Walau sebagian wajahnya tidak kelihatan
tapi aku yakin bu Dwi menyambutku sambil tersenyum.
“Saya Dwi bu, yang semalam telpon
ibu, apa kabar bu?” sapanya ramah
“Saya mamanya Iqbal bu, mohon
petunjuk untuk langkah perbaikan nilai anak saya dan mohon dimaafkan karena itu
juga salah saya sebagai orang tua kurang memberikan kontrol dan bimbingan
terhadap tugas anak-anak....walaupun seharusnya saya berterima kasih karena
mereka anak2 yang mandiri terlebih sejak ayahnya meninggal... Maaf ya bu karena
mereka sering saya tinggal untuk kunjungan ke rumah siswa saat BDR, memberikan bimbingan di beberapa lembaga PAUD yang akan
Akreditasi, mendatangi siswa paket A,
paket B dan Paket C ke PKBM, malam hari berangkat lagi pengajian kelompok muslimat di beberapa tempat,
akhirnya mereka terabaikan....” Kok jadi curhat yaa karena merasa bersalah.
“Bu, Saya minta maaf...ternyata yang
dimaksud itu adalah Muhammad Iqbal, bukan Iqbal Mahardika putra ibu, harusnya
saya mengucapkan banyak terima kasih karena laporan dari sebagian wali murid,
ada beberapa anak yang ikut kegiatan Jum at Berbagai yang dilakukan oleh Iqbal
di masjid dekat rumahnya, apa betul begitu bu? “ lanjutnya
“Alhamdulillah...”gumamku lirih,
sambil menganggukkan kepalaku untuk membenarkan apa yang disampaikan bu Dwi, tak terasa butiran bening menetes di pipiku.
Betul
bu, setiap hari Jumat, anak-anak saya dan temannya menyalurkan beberapa nasi
kotak dari beberapa donatur di masjid masjid di desa kami setelah sholat jumn
at. Kegiatan itu sudah berlangsung lama sejak ayanhnya masih ada bu” jawabku
menjelaskan.
Ya
Allah...lindungi anak-anakku, tuntunlah mereka ke jalan yang KAU ridloi yaitu
jalan yang menuju kebaikan. Terngiang ucapan adik semalam Berpikirlah yang
baik-naik, katakan yang baik-baik dan lakukanlah dengan baik, maka kau akan
menemukan Kebaikan itu benar adanya. Terima kasih anak-anakku....
#semoga
sehatselalu
#Loveyoumasbroodandikbroo




Jumat
berbagi Semoga Berkah
Komentar
Posting Komentar