TAS BIRU DARI AYAH
TAS
BIRU DARI AYAH
By
: Dra. UTARIYATI, M.MPd
Sore
itu sangat cerah, semua rangkaian kegiatan Penilaian Akhir Tahun di PKBM Nurul Huda sudah usai
dilakukan secara Daring. Sejak kebijakan pemerintah terkait pandemi covid-19,
kegiatan belajar baik formal maupun non formal dilaksanakan secara Daring,
dikandung maksud untuk mencegah penyebaran penyakit yang menakutkan masyarakat
itu. PKBM Nurul Huda sebagai salah satu lembaga Non Formal yang biasa menampung
anak-anak yang DO sekolah formal mulai dari SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA juga
mengikuti ketentuan pemerintah.
Layar
Computer masih menyala, untuk menunggu kiriman foto lembar jawaban dari peserta
didik yang selesai mengerjakan PATnya. Ada Winda, staf PKBM yang masih duduk
manis dan selalu setia menyelesaikan
setiap kegiatan administrasi di PKBM. Aku beranjak keluar dari ruangan untuk
memberikan kesempatan pada mata yang
mulai lelah, memandang tumbuhan di sekitar PKBM. Biasanya sore seperti ini,
peserta didik sudah beristirahat dan
sebagian melaksanakan sholat ashar secara bergantian di musholah yang ada di
samping kantor PKBM. Ada juga sebagian peserta didik perempuan yang mungkin
berhalangan untuk melaksanakan sholat hanya sekedar duduk ngobrol di ters depan
kelas. Bagi yang belum menyelesaikan tugas, lebih memilih masuk di ruang Taman
Baca Masyarakat, tempat beberapa koleksi dan modul berjejer rapi. Semua
fasiliitas itu bebas di pakai untuk menunjang kegiatan belajar di PKBM Nurul
Huda. Tampak dinding bagian depan yang dilapisi sterofom adalah tempat peserta
didik menempel aneka hasil tulisan, berupa : puisi, resep maskan atau minuman,
atau pengumuman lainnya. Jadi walaupun di lembaga non formal, kesempatan untuk
berekspresi bagi peserta didik tetap akan tersalurkan walau tidak selengkap di
pendidikan formal. Terlebih disaat sekarang, saat dunia di
landa pandemi covid-19, akan tetapi kegiatan belajar tetap harus dilaksankan.
Belajar dari rumahpun kami lakukan. Alhamdulillah di PKBM sudah tersedia
jaringan internet sejak enam bulan yang lalu, sebagai persiapan melaksanakan
Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) walau akhirnya ditiadakan secara
nasional oleh Pemerintah.
“Assalaamulaikum...bu
ada yang menghubungi hape ibu” suara salam mengagetkanku, Winda menyerahkan
Hpku karena ada panggilan dan berulang-ulang.
“Waalaikum
salam, dari siapa mbak?” tanyaku sa,bil melihat layar gawaiku. Tapi hanya terlihat
nomor saja, berarti nomor itu belum tersimpan di memori hapeku. Tapi dari
seberang sana sudah keburu di akhiri. Akupun enggan untuk menghubungi tapi hape
aku pegang sambil tetap melanjutkan langkah kakiku melihat setiap tanaman yang
ada di pekarangan PKBM. Sampai akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB.
Semua jendela kantor sudah ditutup, lampu luar sudah dinyalakan, komputer sudah
off, dan Windapun bersiap untuk pamit, tinggal menungguku saja.
“Semua
peserta didik sudah mengirim foto lembar jawabannya mbak?” tanyaku
“Sudah
bu, Ada 27 peserta didik paket C yang
sudah masuk dan sudah mengirim file jawaban ke bu Hanik tutor Ekonomi bu” jawab
Winda
“Ok,
Ayo kita pulang mbak, sampai jumpa hari minggu yaa..., Akupun bergegas
meninggalkan Winda yang masih mengunci pintu Kantor PKBM.
Sesampai
dirumah, suasana sepi, pintu pagar tertutup kemana gerangan anak-anak, ternyarta
pintu rumah tidak terkunci, artinya penghuninya pasti ada.
“Assalaamualaikum....”
sapaku sambil kubuka pintu dengan pelan
“Waalaikum
Salam...” jawab mereka berdua. Si kakak dengan baju koko dan sarung coklat tua
sepertinya bersiap sholat magrib dan si Adik masih menggunakan kaos dan celana
boxer biru tua . Apa yang mereka diskusikan?
“Kok
adik masih belum siap-siap sholat magrib?”
“Belum
ma, ini ada kiriman paket tapi memakai nama ayah di alamat ini” Jawab si
bungsu. Bergegas aku amati paketan itu dan aku lihat nama pengirim dan alamat
tidak ada, hanya ada nomor telpon saja. Sayapun semakin penasaran....
“Taruh
dulu paketan itu...setelah sholat magrib kita buka bareng-bareng, ok! Merekapun
menyetujui, dan seperti biasa kitapun sholat berjamah bertiga. Semejak
kepergian ayah dua tahun lalu, kegiatan ini selalu kami lakukan bersama. Mereka
berdua selalu siap menemaniku dalam setiap kegiatanku. Berjamaah saat magrib
adalah rutinitas kami dan dilanjutkan membaca Al Qur’an walau hanya 10-15 ayat setiap
malam. Mereka berdua bergantian yang menjadi Imam atau makmum saat berjamaah.
Doa penutup adalah bagianku dan mereka bergantian menyalami dan mencium dengan
penuh sayang pada mamanya.
Gunting
sudah di pegang kakak dan bersiap membuka bungkus plastik, sambil dipegang oleh
adik. Perlahan dibukanya lapisan pertama, dilanjutkan lapisan kedua berupa
kertas coklat pembungkus kardus nya. Waduh... si Kecil semakin penasaran,
dengan telaten si kakak menggunting bagian yang masih di lapisi isolasi.
Terlihat bagian isi kardus sebuah Tas berwarna Biru dongker, dengan asesoris
logam kerren di bagian depannya. Setelah itu perlahan dikeluarkan tas biru
sampai posisi diluar kardus. Resleting tas dibukanya dan masih ada lapisan
Bublewrap penbungkus benda didalamnya.... Ku lihat wajah serius dua anakku
melihat benda yang akan dikeluarkan. Ya Allah... sebuah Laptop berwarna Biru masih
tersegel dan ada amplop putih diatasnya. Tapi yang membuat penasaran adalah
siapa pengirimnya?....
To : Bambang sahabatku
Maaf yaaa, aku baru sempat mengirimkan laptop
ini sekarang karena sejak aku pulang dari Indonesia 2 tahun lalu aku harus
pindah ke New Zealand dan baru seminggu aku kembali ke tempat yang lama di LA
karena anakku tetap sekolah disini , dan akhirnya aku menemukan alamatmu ini.
Maafkan ya... tapi ini sudah aku kirim untuk anakmu dan sesuai warna sesuai
pesananmu, salamku untuk anakmu semoga bermanfaat.Semoga sukses!
TTd
Andre
Aku tak kuasa menahan butiran bening dimataku,
ternyata tas biru itu adalah pesanan ayah ke Om Andre (teman SMP) yang saat
reuni terakhir menjanjikan untuk diberikan kepada adik karena untuk persiapan
ujian kelas tiga SMP saat itu. Kertas itupun di baca mereka berdua, ada rasa
haru yang sangat dalam terlebih pada si kecil. Ternyata Om Andre belum tahu
klau ayah meninggal dua tahun lalu seetlah beberapa saat acara reuni SMPnya.
Wajah
si bungsu terlihat memerah senang tapi juga terharu sekali, sambil berucap....
“Alhamdulillah...” dia dekap tas biru itu. Dan sambil berkata Terima kasih
ayah, terima kasi om Andre, betapa dia merindukan kembali saat bersama ayah,
mengantar mama mencari buku di toko
Gramedia dan menyampaikan keinginannya untuk memiliki Laptop dan tas berwarna Biru itu. Kini keinginannya sudah
terpenuhi Alhamdulillah...sungguh Allah punya cara tersendiri untuk memberikan
jawaban doa umatnya.
Kembali
aku ambil kertas pembungkus paket itu dan aku perhatikan nomornya, ternyata itu
adalah nomor yang sama yang sempat telpon tadi sore saat di PKBM. Akhirnya
akupun menyampaikan permintaan maaf atas semua kesalahan suamiku dan
mengabarkan bahwa mas Bambang sudah meninggal dua tahun yang lalu dan tak lupa
mengucapkan terima kasih atas kirimanya untuk anak-anak.
Teruntuk papa tercinta , Alfaatihah
Komentar
Posting Komentar