BUTIRAN TASBIH BUNDA
BUTIRAN
TASBIH BUNDA
By. Dra. UTARIYATI, M.MPd
DIREKTUR PKBM NURUL HUDA JEMBER
Bagi
sebagian orang, hari minggu adalah waktu
untuk berlibur, bersantai dan melepaskan kepenatan setelah melaksanakan
rutinitas di enam hari sebelumnya. Tapi bagi bu Farida, hari minggu adalah hari
yang spesial dan selalu dinantikan karena selain beristirahat dari rutinitas
kesehariannya sebagai tenaga harian lepas, pengasuh Balita di sebuah keluarga kaya di daerah
perumahan elit daerah kampus,
kesempatan ini dia gunakan untuk mengantar Dinda, putri satu-satunya yang
sebelumnya adalah siswi SMK Negeri favorit di kota ini dan Droup out saat sudah
menjelang kenaikan kelas, karena kondisi fisik Dinda yang ringkih, sering sakit
akhirnya Dinda memilih melanjutkan belajar di kelas XI Paket C PKBM Nurul Huda
Jember, sejak enam bulan yang lalu, begitu alasan bu Farida saat
mendaftarkannya.
“Assalaamualaikum...”
sapa bu Farida sore itu
“Waalaikum salam...,
bagaimana kabarnya bu? Jawabku sambil menyalami ibu yang setia menemani dan
mengantar putrinya setiap minggu sore.
“Alhamdulillah, baik
bu...Dinda juga sudah mulai lebih sehat dan bersemangat bu, oleh karenanya saya
selalu tidak sabar menunggu hari minggu untuk bisa mengantarkannya ke
PKBM”, jawabnya dengan mata yang berbinar bahagia.
“Syukurlah bu, semua
itu karena semangat dan doa ibu untuk Dinda...melihat dia sudah bisa
tersenyum saja saya sudah senang
lho...”, jawabku sambil memandang perempuan yang masih menyisakan kecantikan
disaat mudanya.
Sementara Dinda sedang
mengikuti kegiatan belajar di dalam kelas, untuk hari minggu ada dua mata
pelajaran yang harus diikuti, yaitu Bahasa Inggris dan Sosilogi . Bahaasa
Inggris di ajarkan oleh bapak Rudi,
sedangkan Sosiologi di sampaikan oleh ibu Tari sendiri. Untuk kegiatan di hari
minggu, kehadiran peserta didik lebih banyak dari hari lainnya, hal ini
dikarenakan banyak peserta didik yang hanya bisa mengikuti kegiatan tatap muka
di hari minggu di karenakan bekerja. Selebihnya mereka belajar melalui modul
yang disediakan PKBM dan bisa dipinjam pakai untuk belajar di rumah. Kulihat bu
Farida duduk terpekur dengan memegang buku kecil yang dibacanya selama menunggu
Dinda belajar. Pandangannya tak pernah lepas dari buku kecil yang selalu
dibawanya, dan akhirnya aku tahu bahwa
yang ia baca adalah Al qur an kecil dan tak pernah lupa dibawanya kemanapun bu
Farida pergi.
Teringat di hari minggu
pagi enam bulan yang lalu, pukul 07.00 pagi, datang seorang ibu dengan mata sembab dan mengendarai
motor sendiri . Saat itu aku sedang menyiram tanaman yang ada di halaman depan
rumah. Pemandangan seperti itu sudah sering aku lihat dan aku temui, saat para
orang tua ingin mendaftarkan putra putrinya yang DO dari sekolah formal dengan
aneka masalah yang di hadapinya. Setiap orang tua selalu menginginkan yang
terbaik untuk putra putrinya. Seperti juga yang di alamai oleh bu Farida ini.
Melihat wanita itu memarkir motornya di depan dekat pintu pagar, aku persilahkan agar masuk saja
ke halaman rumah.. Kumatikan kran taman dan pintu rumah sengaja dibuka sedari
tadi , agar udara minggu pagi segera masuk kedalam rumah. Sejenak kemudian ibu
itu mendekatiku...
“Apakah betul ini rumah
bu Tari?, tanyanya dengan disertai senyum ramah walau matanya sayu, seakan
sedang menunjukkan kesedihan pemiliknya.
“Betul, ada yang bisa
saya bantu, bu” sambil menyalaminya dan mempersilahkan masuk ke ruang tamu.
“Maaf bu, saya
menggangu ibu pagi ini. Dan kalau diijinkan saya duduk disini saja bu, pintanya sambil
menunjuk kursi yang ada di teras depan dan menghadap tanaman yang baru saja di
siram,
“Silahkan bu..”,.akupun
mengikuti permintaan ibu ini
“Saya ingin
mendaftrakan anak saya sekolah di PKBM bu, sebelumnya anak saya sekolah di SMK
Negeri 10 bu, ini raport SMKnya, tapi
dia bermasalah dengan kesehatannya dan harus istirahat sampai 6 bulan akhirnya
dia tidak naik kelas. Oleh karena itu, atas saran dari guru wali kelasnya agar
Dinda melanjutkan di Paket C PKBM Nurul Huda bu”, begitu bu Farida menjelaskan
alasan putrinya masuk di PKBM dan menyerahkan raport Dinda. Sejenak kemudian
aku pamit kebelakang untuk menyediakan teh hangat di pagi itu. Dan aku
persilahkan untuk meminumnya
“Monggo, diminum tehnya
bu”
“Terima kasih bu Tari,
jadi merepotkan”, jawabnya tersipu,
Aku terima raport SMK
Dinda dan mengamatinya, tanpa ku minta bu Farida menceritakan latar belakang
Dinda hingga dia DO di SMK itu. Dengan sangat tegar beliau ceritakan Dinda
putrinya satu-satunya, yang ditinggal ayahnya sejak di dalam kandungan usia
empat bulan, sampai sekarang usia kelas XI SMK belum pernah sekalipun Dinda
bertemu ayahnya. Bu Farida sebagai single parent bekerja apa saja agar bisa
menghidupi putri semata wayangnya. Dia curahkan segala perhatian dan kasih
sayangnya agar Dinda menjadi orang yang sukses kelak. Dinda kecil tumbuh
menjadi gadis cantik yang cerdas, sejak PAUD dia sudah tunjukkan kecerdasannya
dalam menghafal surat-surat pendek, menyanyikan lagu- lagu anak. Setelah di SD
pun dilewatinya dengan penuh prestasi, Dinda penuh percaya diridalam setiap
kegiatan lomba yang diikutinya untuk mewakili sekolah ditingkat kecamatan
bahkan di Kabupaten. Sehingga dia bisa diterima di SMP favorit lewat cabang
prestasi non akademik, yaitu Hafizdah 10 juz. Betapa bangga ibunya walau hanya
sebagai pengasuh balita, dan buruh cuci setiap hari minggu. Semua akan ia
lakukan untuk membahagiakan Dinda, dia harapan dan masa depannya. Dinda harus
menjadi perempuan sukses, mandiri dan sholehah,
sehingga tidak diremehkan oleh laki-laki.Selalu begitu yang ada di dalam
benak ibu Farida. Jangan sampai pengalaman pahit hidupnya menimpa Dinda, apapun
akan ia lakukan untuk kesuksesan Dinda. Kesibukan bu Farida mengumpulkan rupiah
demi rupiah dimaksudkan agar bisa memenuhi kebutuhan Dinda yang sudah masuk di
SMK Negeri favorit kota ini. Dinda memilih jurusan Akutansi, jurusan yang
diidamkan setiap murid yang masuk di SMK ini. Sebab lulusan Jurusan Akutansi
paling mudah diserap pasar kerja di masyarakat. Tak pernah terbayangkan keberadaan
teman dan pergaulan sangat mempengaruhi Dinda saat dia sudah dikelas XI. Dinda
sering pulang sore dan bahkan sering sampai malam. Bu Farida selalu mendapat
jawaban yang kurang memuaskan setiap ditanyakan alasannya pulang sampai malam.
Hingga suatu malam Dinda pulang dalam keadaan tergeletak di depan pintu
rumahnya, darah segar keluar dari mulutnya. Bu Farida histeris dan tetanggapun
menolongnya untuk segera dibawa ke Klinik terdekat. Dipegang erat tangan
anaknya saat Dinda terbaring lemah di ruang UGD, dipandanginya wajah pucat
didepannya, mulutnya tak pernah berhenti membacakan doa untuk putri
satu-satunya. Air mata terus mengalir tak terhenti, diusap-usapnya wajah putih
putrinya dengan tangan kirinya, sedang tangamn kanannya tak lepas menggengam jari
– jari mungil Dinda.
“Ya, Allah...lindungi
putriku, Aku percaya kau maha segalanya. Dua jam berlalu Dinda tak bergeming,
membuat bu Farida semakin khawatir dengan keadaannya. Seorang perawat memanggilnya
sehingga dia harus melepas genggaman putri cantiknya
“Keluarga
Dinda...silahkan ditunggu dokter”,
panggil seorang perawat
“Saya, bundanya...”,
jawabku sambil segera mendekat dan mengikuti arah yang ditunjuk perawat tadi.
“Saya bundanya Dinda
dokter...”, kataku tanpa di tanya.
“Bu, putri ibu
mengalami Overdosis, dia memakai obat **** dan sangat berlebihan sehingga
mengakibatkan muntah darah. Apakah sudah lama dia memakai obat-obatan seperti
itu bu,,,?” tanya dokter, sambil menatap bu Farida dengan serius
“Apa dok...., anak saya
pemakai, overdosis... ooohhh tidak mungkin dokter, tidak mungkin...Dinda anak
yang baik dokter, dia anak saya satu-satunya, tidak mungkin dokter...
Bu Farida bersimpuh di kaki dokter, dia menangis
sejadi-jadinya. Dia tidak percaya dengan apa yang disampaikan dokter, dia
anggap dokter salah diagnosa, dia anggap dokter
menakutinya.....oooohh...tidak....Dinda anak baik, dia anak manis. Dinda....
Karena histeris bu Farida di bopong untuk pindah
diruang sebelah untuk ditenangkan oleh perawat yang lain. Dia seperti disambar
petir dan hancur berkeping-keping hatinya. Dunia terasa gelap, dia kecewa dan
merasa sudah tidak berguna lagi hidupnya. Lamat-lamat Perawat yang ada di
dekatnya berkata dan menguatkannya
“Ibu...,
putri ibu akan baik-baik saja, dia akan kuat melewati masa kritis itu, klau ibu
ada didekatnya dan mendoakannya. Hilangkan pikiran negatif tentang anak ibu,
mereka terpengaruh oleh teman bergaulnya, tapi sekuat apapun pengaruh teman
masih lebih kuat doa ibu, doakan terus minta pada Allah...karena doa ibu adalah
butiran tasbih yang akan terus bergerak mengikuti nafas putra putrinyanya,
karena saya juga seorang ibu sekaligus ayah dari dua anak saya yang seusia
Dinda,” ucapan perawat itu sangat memotivasi bu Farida
“Terima
kasih suster, saya ingin melihat Dinda “, Susterpun memapah bu Farida kembali
menemui Dinda yang masih pulas dan tidak akan pernah tahu yang terjadi saat
ini.
“Ya
Allah...kuatkan Dinda anak hamba, melewati masa kritis ini”
“Ya
Allah...Dialah satu-satunya yang membuatku tetap hidup dan bersemanagat
melewati hari-hariku, dialah harapanku, masa depanku....lindungi Dinda....”
airmatapun tak pernah kering mengalir dipipi bu Farida, sampai akhirnya tangan
mungil di genggamannya bergerak....perlahan dibukanya matanya, nanar, buram
dipejamkan matanya lagi dan lamat-lamat didengarnya suara yang sudah tak asing
lagi itu memanggil namanya
“Dinda...bangun
nak, ini bunda” senyum itu tak pernah berubah dan Dinda merasa bersalah, Dinda
berdosa telah mengecewakan wanita yang telah mengorbankan hidupnya untuk
membahagiakan dirinya. Dinda menyesali apa yang telah diperbuatnya.
“Bunda...maafkan
Dinda, ditariknya jari-jari kasar karena
bekerja serabutan untuk membiayai dirinya. Tangis Dindapun pecah, dia menyesali
kebodohan yang telah mengecewakan bundanya. Dia terlalu percaya dengan apa yang
dilakukan temannya bahwa yang ia minum bisa membuat stamina belajarnya
meningkat, menghilangkan capek karena tugas yang menumpuk, dan ternyata itu
adalah jebakan dan membuatnya ketagihan. Dan kejadian malam itu membuatnya
overdosis. Beruntung tidak terlambat dan bisa ditangani dengan cepat sehingga
nyawanya masih tertolong. Walaupun efek pemakaian itu membutuhkan waktu panjang
untuk melunturkannya. Dokter menyarankan agar Dinda istirahat dan bisa putus
hubungan dengan teman-teman yang telah menjerumuskannya.
Bu Farida membuat keputusan agar Dinda berhenti dan
tidak lagi berhubungan dengan teman-teman yang dulu. Dia tidak mau kecolongan
lagi, maka atas petunjuk wali kelasnya bu Farida mendaftarkan Dinda di Paket C
PKBM Nurul Huda.
Minggu sore adalah hari yang selalu dinantikan oleh
bu Farida, dia sudah berjanji tidak akan membiarkan putrinya bersama teman-teman
yang akan menjerumuskannya. Diapun tidak lagi ambil kerja untuk hari minggu,
waktu sehari itu digunakannya untuk mengantarkan Dinda ke PKBM sedangkan hari
Rabu dan Jumat digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada di Modul .
Selagi menunggu Dinda , waktunya digunakan untuk membaca ayat-ayat Al Quran dan
mendoakan putri semata wayangnya agar selalu dalam lindungan Allah... dia akan
selalu mengingat kata-kata perawat yang mnguatkannya bahwa Doa ibu adalah
Butiran Tasbih disetiap nafas kehidupan putra putrinya .
Terinspirasi
dari : Kisah nyata sebagai Pengelola PKBM Nurul Huda Jember
#STOPDO
#AYOKEPKBM
#MENJAGASENYUMDANSEMANGATNYA
MENJAGA
SENYUM DAN SEMANGATNYA

SETELAH
GLADI/SIMULASI UNBK PAKET C 2020

SAAT
UNBK PAKET C PKBM NURUL HUDA 2019
Komentar
Posting Komentar