KARTU UNDANGAN UNTUK BU GURU
KARTU UNDANGAN UNTUK BU GURU
Oleh
: Dra. UTARIYATI,M.MPd
Hari sabtu pagi yang
cerah seolah mengiringi keceriaan hati para penghuni bumi, saat ini , jam baru
menunjukkan pukul 06.00 WIB tapi aku sudah bersiap-siap dengan baju resmi untuk acara wisuda siang
ini, ku kenakan batik panjang berwarna kuning liris dengan bawahan hitam
berbentuk A dan dibalut dengan jilbab pasmina kuning polos menambah kesegaran
suasana pagi itu.
Kujalankan mobil agak
cepat menuju rumah salah satu muridku yang sudah lulus paket C , 4 tahun yang
lalu. Semalam sudah aku jelaskan tentang tujuan kedatanganku dan berjanji akan
aku jemput sekitar pukul 6 pagi besoknya. Dan setelah sampai disana, sepasang
suami istri yang pekerjaannya buruh tani itu sudah bersiap-siap, tampak dari
pakaian batik yang dikenakan Pak Purnomo, lengkap dengan kopiah hitam dan
sarung yang sudah rapi. Sementara bu Purnomo mengenakan baju kebaya coklat muda
agak panjang sampai lutut dipadukan dengan kain panjang warna warna colat tua
dengan warna kerudung colat juga. Pelan-pelan aku parkirkan mobilku dan
bergegas mengajak sepasang suami istri
itu untuk masuk ke mobilku.
“Monggo bapak dan ibu
Purnomo saya aturi masuk” ajakku
“Terima kasih bu...,
kami dibelakang saja bu” jawabnya, pasangan suami istri itupun duduk dibagian
tengah mobilku. Setelah aku tutup, kembali aku kursi kemudi.
Mobil melaju menuju
kota dimana sesuai alamat yang tercantum dalam undangan yang aku terima kemarin
sore. Tiga puluh menit berlalu, mobil menuju alamat yang dimaksud. Suasana
sudah ramai sekali, banya kendaraan berlalu lalang untuk menandakan bahwa ada
kegiatan besar pagi ini. Beberapa diantaranya adalah mahasiswa yang berasal
dari luar kota dan saat inilah waktunya menunjukkan pada keluarga bahwa mereka
sudah bisa menyelesaikan program studynya di kota ini. Mereka seakan ingin
mengajak untuk merasakan kebahagiaan diacara wisudanya. Tak terkecuali yang
dirasakan oleh Siswantoro putra bapak dan ibu Purnomo ini. Anak dari desa yang
ingin mewujudkan keinginannya menyelesaikan program S1nya setelah lulus dari
Paket C. Arifin adalah anak tangguh dan
mau bekerja keras dalam mewujudkan cita-citanya. Selepas SMP Negeri di desa dia
tidak mampu melanjutkan ke jenjang SMA seperti teman lainnya. Dia lebih memilih
melanjutkan Paket C setara SMA yang ada di PKBM, karena di PKBM bisa belajar
hanya tiga kali seminggu, tidak harus berseragam dan belajarnya menggunakan
modul yang bisa dipinjam dari Taman Bacaan yang ada di PKBM. Kegiatan
belajarnya juga sore pukul 14.00- 17.00 WIB. Sementara waktu yang lain bisa
membantu bapak dan ibunya menanam sayuran di sawah milik tetangganya dengan
cara bagi hasil. Arifin dengan tekun membantu ayah dan ibunya tanpa rasa malu.
Bahkan mengantarkan sayuran ke pembeli sayuran saat sore hari ke pasar desapun
bisa dilakukan sampai beberapa kali angkut dengan sepeda suzuki tua miliknya.
Ada kalanya dia harus mengantar sayuran ke pasar induk di Kabupaten sesuai
permintaan pembeli. Semua dilakukannya dengan penuh suka cita. Saat magrib
diapun tetap rajin berangkat ke TPQ untuk melakukan tugasnya sebagai tutor ngaji
bagi anak-anak kecil yang masih usia SD. Malam harinya kembali ke rumah dan
kesempatan itu digunakannya untuk belajar, menegrjakan tugas yang ada di modul
paket C yang dipinjamnya.
Setelah memarkir mobil
ditempat kendaraan keluarga wisudawan, aku berjalan sambil menggadeng tangan
ibu Purnomo, tangannya dingin sekali, sementara pak Purnomo mengikutiku dari
belakang, sampai dipintu masuk, aku serahkan kartu undangan ke panitia dan di
gantinya dengan nomor kursi dan kotak konsumsi dan di persilahkan dudukditempat
yang telah disediakan. Para keluarga berada di luar gedung utama, tapi di depan
di sediakan 3 layar untuk bisa menyaksikan prosesi wisuda pagi ini. Semua
terlihat gembira, tak terkecuali dengan bapak dan ibu Purnomo. Ibu Purnomo
kelihatan cemas mungkin dia tidak terbiasa dengan situasi seperti ini,
sementara pak Purnomo kelihatan lebih yenang, terbukti dia bisa ngobrol dengan
undangan lain yang ada disebelahnya.
Kegiatan di awali
dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya,
mars universitas dan beberapa lagu penyemangat dibawakan oleh Paduan Suara
begitu gembira. Dan acara prosesi yang ditunggu –tunggu sudah dimulai,
pembacaan nama – nama wisudawan dan wisudawati sudah mulai. Semua memperhatikan
layar dengan hikmat, seakan-akan tidak ingin terlewati saat putra putrinya maju
dengan mengenakan toga dan menerima tanda lulus serta mendapat ucapan selamat
dari rektor secara bergantian. Momen seperti ini sangat mengharukan dan sangat
bermakna, momen inipun di abadikan dalam sebuah foto yang akan diterima seluruh
wisudawan setelah kegiatan berakhir.
Acara ceremonial telah
usai.Satu-persatu kegiatan hiburan mulai ditampilkan, ada menyanyi, tarian,
paduan suara melenial ini bahkan menyanyikan lagu Ambyar milik Didi kempot. Tak
terkecuali pengumuman peraih IP tertinggi ditingkat Universitas. Ada juga
pembacaan Puisi dan persembahan lagu, Semua merasa gembira, aku lihat rona
wajah bapak Purnomo dan bu Purnomo berseri-seri. Akan tetapi sampai acara
hampir berakhir dia belum bertemu dengan putra satu-satunya itu. Yang dia lihat
di layar saat pembacaan wisudawan beberapa saat tadi....Arifin Sarjana
Pendidikan lahir Jember, 07 Januari 1997 putra bapak Purnomo...dan sampai
sekarang dia belum melihatnya lagi.
Dengan sabar aku
sampaikan kepada keduanya mungkin masih acara foto bersama dengan
teman-temannya, kita tunggu dulu ya bu, begitu aku sampaikan
“Ya bu... “ jawabnya
lirih.
Satu-persatu undangan
mulai meninggalkan tempat kegiatan di gedung bersejarah itu.sambil aku coba
menghubungi nomor telpon Arifin , tapi handponnya tidak aktif. Aku mencoba
menenangkan dua orang yang ada di depanku agar sabar untuk menunggu sebentar.
Merekapun selalu mengiyakan apa yang aku ucapkan. Disaat aku sibuk mencari
nomor telpon yang bisa membantuku mencarikan dimana keberadaan anak itu. Sesaat
kemudian ada sosok laki-laki besar berada di depanku dengan hem putih dipadukan
dengan jas dan celana hitam serta toga dan jubah masih melekat dibadannya.
Belum sempat aku
berucap, dia sudah bersimpuh didepanku dan memeluk kakiku
Akupun terhuyung dan
terduduk dikursi undangan
“Allahu Akbar....kamu
Arifin kan? “ tanyaku anak itu masih tetap memeluk kakiku akupun terduduk di
kursi awal saat acara wisuda tadi. Sambul aku angkat tangannya dan aku tatap
wajahnya lalu kuucapkan “Selamat ya nak, semoga semakin sukses dan teruslah
melangkah jangan lupa berdoa untuk bapak dan ibu” kataku menguatkannya.
“Terima kasih bu
Tari...semua bisa sampai disini karena dorongan ibu, saya minta maaf yang
banyak karena selama saya kuliah jarang menmberikan kabar kepada ibu karena
saya uliah sambil menjadi guru private untuk memenuhi kebutuhan saat kuliah.
Alhamdulillah semua dilancarkan.
Aku mendengarkan kisahnya, dengan seksama.
Ternyata surat undangan itu semula memang diberikan kepada bapak dan ibu
Purnomo tapi atas saran ibunya undangan itu yang pantas adalah untuk bu guru tari, dan undangan
itupun di antarkan ke PKBM . Alhamdulillah dari undangan itupun aku bisa
mengajak bapak dan ibu Purnomo agar bisa menyaksikan kesuksesan putranya
menyelesaikan studynya.
Dengan bangga aku
rangkul bahu ibu dan bapak Purnomo disebelahku, sambil aku katakan kepadanya,
“Beliaulah yang hebat,
yang selalu mendoakan putranya setiap saat, sekarang kewajibanmu membahagiakan
mereka berdua. Jangan pernah membuat mereka sedih, bersujudlah kau saat ini
nak. Ucapkan terima kasih dan doakan beliau agar tetap sehat” sambil aku
anggukkan kepalaku dan menuruti yang aku inginkan. Secara bergantian arifin
bersimpuh didepan ibunya dan tengispun pecah, akupun tak sanggup menahan
buliran bening itu meleleh dipipiku.
“Maafkan Arifin bu,
selama hampir empat tahun aku meninggalkan ibu, aku berjanji akan kembali untuk
ibu, sambil tetap membenamkan mukanya di pangkuan ibu Purnomo.
“Maafkan saya bapak,
bapak yang selalu mengajarkan aku untuk tidak pernah mengeluh, dan aku lakukan
itu sampai semua selesai, terima kasih bapak” sambil mencium takdzim tangan pak
Purnomo. Akupun menyaksikan kisah yang mengharibiru didepanku, dan setelah
Arifin duduk bersebelahan dengan putra dan istrinya, beliau mengatakan
adalah Bu guru.
Akhirnya undangan itu di antarkan ke PKBM tetapi tidak sempat bertemu ibu.
Akupun mendengarkan
penjelasan pak Purnomo dengan seksama dan penuh rasa haru. Akhirnya keluarga
ini merasakan bahagia dengan caranya. Allah maha adil dan saya yakin itu.
Selalu saya sampaikan kepada anak-anak yang ada di PKBM bahwa disinilah saatnya
kamu meraih mimpi dan cita-citamu yang sempat tertunda. Maka
bersunguh-sungguhlah ....”man jaddah wajada” siapa bersunggu-sungguh pasti
berhasil.
Dan Siang itu berlalu
dengan penuh rasa gembira, penuh rasa syukur dan sangat menyenangkan.
#STOPDO!
#YUUUKBELAJARLAGI @PKBM NURUL HUDA
Komentar
Posting Komentar