AKUPUN BISA MENULIS...


 AKUPUN BISA MENULIS...

By : Dra. Utariyati, M.MPd

Sudah dua  bulan berlalu, kebijakan pemerintah akibat pandemi covit-19.  Dengan tujuan untuk memutus mata rantai penyebarannya.  Dengan harapan tidak ada atau tidak akan bertambah masyarakat yang terpapar. Setiap hari, setiap saat di semua media menceritakan betapa dahsyadnya Covid-19 menyerang manusia, diseluruh belahan dunia. Suasana mencekam, menegangkan membuat semua kegiatan di semua sektor terhenti. Mulai dari sektor ekonomi industri, banyak buruh  pabrik di PHK, Tranportasi darat, laut dan udara di hentikan sehingga armada di kandangkan, Toko-toko dan mall tutup karyawanpun dirumahkan, sektor pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi semua terhenti. Alampun seolah mengamini keadaan ini, terkadang matahari enggan menampakkan diri dampai saat dhuhur, itupun hanya sebentar...dan kembali sendu, ya Allah...lindungi kami.

Kulihat teras samping rumah semakin padat tanamannya, sebab hampir tiap hari aku tambah tanamannya. Pinggiran kolam ikan  yang awalnya hanya dihiasi bebarapa pot bunga kamboja yang sudah di bonsai, kini sudah penuh di kelilingi bungan sansivera. Sehingga terlihat lebih rapi dan menarik. Tanaman anggrek yang sudah penuh sesak di pot gantung mulai aku tata ulang dengan menanamnya di pot baru, sehingga jumlahnya menjadi puluhan pot dan bergelantungan dengan indahnya di pinggiran pagar tembok  pembatas dengan rumah tetangga . Di pojok kolam terdapat pohon palem merah yang sudah keluar dari potnya. Baru seminggu kemarin aku ganti pot dengan warna coklat terang sehingga kelihatan lebih subur. Masih ada selusin pot putih yang akan aku gunakan untuk memindahkan bunga Aglonema kesayangan suami yang koleksinya mencapai 9 jenis. Aku tidak pernah tahu, dari mana dia mendapatkannya atau membelinya. Jujur...dulu aku tidak perduli dengan tanaman-tanaman itu. Kemuning di pot semen warna kuning emas, pohonnya sudah mulai membesar, rantingnya lebat begitu juga bunganya yang putih dan wangi tidak pernah berhenti mengembang setiap saat, menjadikan setiap pagiku terasa indah, betapa telatennya beliau sehingga aku masih bisa menikmati semua yang dilakukannya terhadap bunga-bunga itu, terima kasih paa...sselalu  kupanjatkan doa terbaik untukmu disana.

Tempat inilah yang dijadikan tempat favorit anak-anak di saat harus Belajar Di Rumah, secara bergantian mereka membantuku untuk menyiram aneka bunga dengan puluhan pot ini. Kutaruh sepasang kursi taman yang bisa digunakan saat dia harus mengerjakan tugas sekolahnya. Pada saat jam 10.00 pagi tepian kolam  inipun kami gunakan untuk berjemur, sesuai dengan arahan protokol kesehatan agar tetap sehat maka harus  berjemur selama 10-15 menit setiap hari.

Kulihat kakak baru keluar dari kamarnya, dengan masih memakai sarung dan kaos oblongnya. Laptop dalam keadaan menyala ditangannya, dia ingin pindah di taman samping rumah untuk mengikuti kuliah onl;ine dari dosennya. Pasti suasananya lebih asyik. Terlebih angin berhembus siang itu dengan perlahan bebas, menambah kenyamanan saat menerima materi dan di lanjut dengan tanya jawab melalui aplikasi zoom meeting yang sedang ngetren disaat pandemi ini.

Terbayang saat dia masih awal-awal kuliah, di hari ketiga saat masa Orientasi  Study Pengenalan Kampus (OSPEK) kejadian itu sangat melekat dalam pikiranku, baru saja masuk kedalam kelas setelah istirahat pertama pukul sembilan, tiba-tiba hapeku berdering

“Assalaamualaikum...betul dengan orang tua Bagas Mahasiswa baru?” tanya seseorang diseberang sana

“Betul, saya mamanya, ini dengan siapa/” jawabku dengan enuh tegang tapi aku berusaha tenang.

“Saya dr pusat informasi kampus, mengabarkan bahwa putra ibu yang bernama Bagar Airlangga saaat ini mengalami kecelakaan dan posisi saat ini menuju RSUD “ lanjutnya

“Allahu Akbar...hanya itu yang bisa aku pekikkan, tak kuhiraukan murid kecil kelas satu yang sudah mengerubungiku. Wajah mereka penuh tanya, ada apa dengan bu guru tapi mereka hanya memandang, aku sempat pamit, anak-anak nanti pelajaran akan di lanjutkan oleh bu Rizqi yaa..., bu guru masih ada kepentingan mendadak, Assalaamualaikum....

Segera ku pacu mobilku menuju RSUD, dengan terus berdoa “Ya Allah...lindungi anak saya, selamatkan dia, kamu harus kuat nak, hasbunallah wanikmal wakiiil....” Seumur-umur baru kali ini aku pacu mobil ini dengan cepat, walau masih tetap waspada hanya rasanya lama sekali, entah mungkin hanya perasaanku saja....

Tiga puluh menit aku sudah sampai di parkiran RSUD, ingin rasanya terbang dan segera memeluk kakak, entah bagaimana adik sudah ada di ruang UGD, adik yang menemani kakak di ruang UGD, dia paling sigap kalau diberi tugas baik oleh guru maupun oleh aku atau ayah, iyulah hikmah aktif di kegiatan Pramuka sejak SD.

“Bagaimana keadaan kakak nak?” sambil menerobos pintu pembatas UGD

Tapi dengan cekatan dia meraih pundakku dan memegangnya erat sambil berkata

“Mama tenang yaa...kakak sedang ditangani dokter, insya Allah kakak kuat, mama doakan yaa” katanya sambil menuntunku...

“Kak...ini mama nak, kamu dengar mama kan?” dengan airmata yang terus mengalir kupegang telapak tangannya, hatiku terus berdoa...Selamatkan anak hamba ya Allah...

Aku lihat layar komputer di depanku dengan grafik yang stabil, walau kakak belum menjawab pertanyaanku. Kupandang wajah itu lekat-lekat. Tadi pagi dia berangkat pukul 05.00 pagi, karena takut terlambat dan tidak sempat sarapan. Menurut cerita temannya dia kecelakaan saat mencari makan diluar kampus pada jam istirahat kegiatan Ospek. Dia memakai sepeda temannya dan kejadian kecelakaan di depan kampus melawan kendaraan tosa pengangkut barang. Saat itu masih memakai baju hitam putih berdasi, tapi sudah penuh darah dan tanah, mukanya gak kelihatan, ada luka lurus pas di kelopak matanya yang kiri dan kanan, darah terus mengucur dr luka di ujung mata kanannya. Celana hitam robek dibagian lutut dan ada luka berdarah juga, tapi dua kakinya masih sempat bergerak berarti tidak ada patah tulang, ...ya Allah, lindungi anak kami

“Ma, pakai ini...” adik memberiku sebungkus tissu basah, yang sangat aku butuhkan untuk membersihkan wajah kakak. Dia paling mengerti dengan yang aku butuhkan. Segera aku ambil selembar tisu basah dan  pelan-pelan aku usapkan pada wajah kakak. Sekali-sekali dia merasa terganggu dengan usapan tisu itu, tapi bagiku itu pertanda anakku masih sadar dan merasakan sentuhan tisu basah itu. Ku lakukan berulang kali dengan mengganti tisu yang baru lagi, ampai mukanya bersih, dua kelopak matanya lebam , rahang kiri agak hitam dan bengkak karena benturan.  Aku belum sempat berpikir bagaimana mengabarkan ayah yang baru pulang dari rumah sakit seminggu yang lalu. Ya Allah berikan kami kekuatan... dua ujian yang sangat dahsyat harus aku alami dalam waktu yang hampir bersamaan.

Dua jam berlalu, tak semenitpun aku beranjak dari kursi disebelah ranjang kakak, aku ingin pastikan mama ada didekatnya. Kondisi masih masa observasi, tanganku gak pernah lepas agar dia masih merasakan aliran darah dan doa mama setiap waktu. Tiba-tiba seorang perawat membuka pintu kaca perlahan, sambil bertanya:

“Keluarga Bagas Airlangga?”

“Ya, saya mamanya...” jawabku singkat, sambil kuusap air mataku yang terasa berat dan sembab karena menangis.

“Mari ikut kami bu...” pintanya dan kulihat lagi wajah kakak yang serti tidur pulas serasa berat melepasnya walau hanya sesaat.

“Selamat siang ibu” kata dokter setelah aku ada didepan meja dengan tangan yang sudah memegang foto hasil rongten kakak tadi.

“Saya akan membacakan hasil rongsent untuk saudara Bagas Airlangga ya bu...” kata dokter Yuliansyah, begitu nama yang tertera di name cardnya dokter muda itu.

“Bagian Kepala aman, hanya bagian rahang kiri agak bergeser sedikit karena benturan keras, sedangkan bagian mata sebelah kiri harus dijahit dan yang lainnya adalah luka ringan” jelas dokter Yuliansyah

“Tapi sampai sekarang kok belum sadar ya dok? Tanyaku dengan polos dan ingin tahu.

“Tenang ibu, korban masih keadaan shok, jadi untuk pertolongan pertama sudah kami lakukan, setelah masa observasi , perawatan nanti dilanjutkan selama masa rawat inap, insya Allah semua akan segera pulih” kata dokter itu menguatkanku

“Terima kaasih dokter” jawabku penuh hikmat. Sesaat kemudian kakak sudah diantar ke ruang Pavilun Anggrek di RSUD ini sampai seminggu kemudian sudah boleh pulang.

Suara adzan  berkumandang dari masjid , gak terasa sudah saatnya sholat dhuhur, walau cuaca seperti masih pukul enam pagi. Dan akupun segera beranjak menuju kamar mandi untuk segera berwudlu’... saat sudah memakai mukena ku dengar bel rumah berbunyi

Kring...Kring...Assalaamualaikum...

Aku lihat pegawai pos bermasker dengan paket ditangan sudah berada didepan pintu.

“Waalaikum salam, darimana yaa?” tanyaku

“Ini bu ada paket untuk ibu Utari, apakah benar ini rumah bu utari? “ tanyanya

“Dengan saya sendiri, minta tolong taruh diatas meja teras dulu ya dik, saya semprot dulu dengan desinfektan, apakah harus ada tanda terima ?” Jawabku dan segera paket itu dia taruh di dimeja teras. Sebenarnya terasa berlebihan, tapi saat pandemi begini semua harus mematuhinya demi kesehatan semua.

“Ada ibu, monggo...”, katanya sambil menyerahkan kertas yang harus aku tandatangani. Segera ku kembalikan dan tak lupa kuucapkan terima kasih.

Paket itu masih tetap berada dimeja teras, selanjutnya aku melaksanakan dulu sholat dhuhur dan membaca surat Alqur’an, walau hanya 15-20 ayat setiap setelah sholat fardlu. Semoga istiqomah bukan hanya pada saat situasi seperti sekarang, aku pikir juga inilah hikmah Bekerja dari Rumah dan Beribadah dirumah, Alhamdulillah.

Sambil menunggu waktu Ashar...biasanya aku enggan untuk membuka mukena lagi, segera kuambil gunting dan duduk dikursi teras untuk membuka isi paket itu. Pelan dan penuh hati-hati penasaran dengan isi paketan itu, Lapisan pertama Plastik hitam dengan lakban pengaman sudah terurai, sekarang lapisan berikutnya plastik bening dan tertulis  Sertifikat, kertas putih dengan pinggiran warna warni cerah, disitu juga tertulis nama ku lengkap dengan gelar dan titelku, Buku Antologi dengan judul “Merajut Kebahagiaan di Hari Kemenangan” dengan no ISBN 978-623-93679-9-2  Hatiku berdesir, bangga, terharu dan senang sekali melihatnya. Aku ucapkan Syukur Alhamdulillah...Ya Allah...akhirnya aku bisa menulis walaupun masih jauh dari sempurna. Tapi Sertifikat ini membuat energiku terpompa untuk terus bisa menulis,lagi, lagi dan lagi...

Selanjutnya di bawah lembar serfikat terbungkus buku dengan cover Coklat tua , dengan tulisan “Merajut Kebahagiaan di Hari Kemenangan” aku merinding melihat buku ini, buku yang jauh dari anganku dan sepertinya terlalu cepat mimpi itu terwujud. Sebelum kubuka isinya ku dekap erat buku itu, ku cium harum kertasnya , aku amati dengan seksama...Ya Allah, Aku bersyukur padamu atas segala nikmatmu. Kau pertemukan aku dengan cara belajar secara online Pelatihan Daring  Menulis yang mudah, dan sangat dimudahkan . Dilatih untuk menulis dari hal yang sederhana dan terjadi di kehidupan sehari-hari, mengirimnya lewat e-mail dan melanjutkannya untuk dicetak menjadi sebuah buku...Masya Allah, sungguh luar biasa nikmatMu. Tidak ada yang kebetulan didunia ini, semua terjadi atas kehendakNya. Terima kasih Bapak Najib atas ilmu yang luar biasa  telah bapak berikan, saat ini saya bisa berlama-lama di depan Computer, menulis , hikmah saat pandemi begini untuk menghasilkan subuah karya.  Sebelum tulisan ini kami kirim, selalu saya share ke akun kritikus ganteng saya untuk memberikan masukan. Merekalah kekuatan saya, semoga sehat dan sukses semua. Terimakasih...

Teruntuk : Papa tercinta- Alfaatihah

 

 

 


Komentar