THR BUAT MAMA
TEMA: LEBARAN ISTIMEWA
OLEH
: Dra. UTARIYATI, M.MPd
THR
BUAT MAMA
Hari ini hari ke 29
Puasa Ramadlan, Sejak pagi Kedua anakku sibuk mengemas beras zakat yang akan segera dibagikan ke tetangga dekat
rumah dan layak untuk mendapatkannya. Kebiasaan setiap menjelang Idul Fitri
selalu melibatkan mereka semenjak kecil. Mulai dari mencari nama-nama orang tua
dhuafa, janda tua, anak yatim, atau
teman bermain yang orang tuanya pekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak
pasti, selanjutnya menghitung jumlah sasaran yang telah didata dan
menyampaikannya padaku berapa orang yang akan diberikan zakat nanti. Kami akan
belanja bersama, mengemasnya dan mendistribusikannya sampai selesai sebelum
sholat ashar.
Saat
Jam menunnjukkan pukul 10.00 WIB, kegiatan itu belum juga selesai, mereka
berdua masih asik mengemas masing-masing paket, sekali-sekali masih memegang
gawainya, entah dengan game onlinenya atau chating dengan temannya. Tapi aku
lihat tumpukan paket yang biasanya bisa dihitung dengan jari, kali ini aku
lihat hampir memenuhi teras belakang garasi rumahku. Dalam hati aku bertanya
“kok banyak sekali”.
Bungkusan tertata rapi dengan tas kain warna hijau,
aku coba lihat didalamnya ada : beras kemasan 2,5 kg, 1 kg gula, 1 lt minyak
goreng, 5 bungkus mi instan, 1 kotak teh celup, 2 bungkus biskuit dan 1 masker. Kucoba menghitung ada sekitar 30
paket, Kalau setiap paket nilainya 80.000, berarti dibutuhkan dana Rp
2.400.000,-. Tapi sampai semua paket itu selesai, tidak ada cerita atau laporan
kekurangan uang belanja. Sebab aku biasakan mereka terbuka dalam hal apapun
tapi mengapa kali ini aku tidak mendapatkannya. Seolah-seolah mereka membiarkan
mamanya penasaran. Jauh dilubuk hati yang paling dalam ada rasa haru dan bangga
terhadap keperdulian mereka disaat situasi pandemi covid-19 belum reda. Banyak
kenyataan di hadapan kita yang
membutuhkan keperdulian orang-orang disekitarnya. Beberapa dari mereka di PHK
dari tempat kerjanya, pekerja bangunan diistirahatkan, penjaga toko di
rumahkan, penjual bakso dan mie ayam menjadi pengangguran. Sedangkan kebutuhan
pokok tetap harus terpenuhi, seperti makan, minum, susu untuk bayi, penerangan
dsb.
Menjelang sholat
dhuhur, semua pekerjaan pengemasan sudah rampung sekaligus sudah tertempel nama
calon penerimanya. Kulihat si Kakak rebahan di kursi samping dengan gawai
ditangannya dan adik bersiap-siap melaksanakan sholat dhuhur. Perlahan aku dekati
adik yang sudah memakai sarung dan kopiahnya. Dia duduk sambil memegang
lem,baran kertas berisi daftar nama calon penerima paket sembakonya.
“Berapa sasaran yang
akan diberi tahun ini dik?” tanyaku
“Punya kakak 15
orang dan punyaku 15 orang jadi semua 30
orang ma” jawabnya sambil menyodorkan kertas putih yang berisi daftar nama
sasaran calon penerima paket sembakonya. Aku lihat sebagian nama- nama itu
sudah terbiasa diberi setiap tahun tapi ada juga nama-nama baru yang belum aku
kenal.
“Alhamdulillah...
kerren lho, banyak sekali dan 3 kali lipat dari tahun kemarin” tambahku sambil
kuacungkan jempol dan tersenyum bangga.
Belum selesai
pertanyaanku, si adik pamit mau sholat dzuhur dulu, kutaruh kertas putih tadi
di atas meja ruang keluarga, akupun berlalu memindahkan jemuran yang sudah
kering di belakang rumah. Saat kembali si kakak sudah berwudlu untuk sholat
berikutnya.
Siang itu banyak
kegiatan tapi tetap terasa lengang. Pengemasan dilakukan hanya berdua, sampai
selesai. Mendadak pintu pagar berderit, berarti ada yang datang,
“Assalaamualaikum”
suara dua orang anak laki-laki dan 1 perempuan didepan rumah.
“Waalaikum Salam, dari
mana nak?” tanyaku sambil tetap menggunakan mukena aku persilahkan 3 anak muda
itu masuk ke ruang tamu.
“Saya Rani, ini Bayu dan
Rehan tante, teman Bintang di SD dulu” jelas cewek manis itu
“Begini tante, kami
bertiga diminta membantu mas Bagas dan Bintang menyerahkan paket sembako siang ini”
si Bayu menjelaskan.
“Ok, sebentar yaa...
saya panggilkan mas Bagas dan Bintang” ,
jawabku sambil berlalu dari hadapan mereka, aku lihat dua anak ganteng masih
dengan sarung dan kopiahnya menemui tiga temannya.
Mereka berembuk dan
berbagi tugas dengan di pimpin oleh kakak, mereka terbagi menjadi 3 tim . Bayu
dan Rani di wilayah paling jauh dan sasarannya yaitu di RW 09 atas rekom mereka juga. Sedangkan Rehan dan
adik Bintang ke arah sebelah barat dari rumah yaitu di RW 06, mas Bagas
mengantar ke sasaran yang setiap tahun menerima paket sembako dari keluarga.
Kumandang adzan Ashar terdengar nyaring dari masjid Nurul
Huda, satu-satunya masjid kebanggaan di dusun kami. Akupun bergegas melaksanakan
sholat ashar dan mukena masih aku kenakan sejak dhuhur tadi. Selanjutnya ke
dapur untuk memasak menyiapkan buka
puasa nanti. Anak-anak sangat mengerti dengan keadaanku, mereka tidak banyak
menuntut untuk hal makanan. Apapun masakan mama adalah yang terbaik seperti
masih ada almarhum ayahnya dulu. Ada kalanya juga makan diluar tapi itupun
hanya saat-saat tertentu, misalnya: saat kenaikan kelas, ada yang ulang tahun ,
atau saat pulang dari mengantar nenek almarhum ibu kontrol rutin ke dokter
keluarga.
Berbuka puasa terasa
sangat seru dengan hadirnya tiga teman Bintang di rumah. Mereka diminta tidak
pulang setelah pendistribusian paket sembako sore tadi. Mereka sengaja di ajak
berbuka puasa bersama dirumah, suasana di rumah menjadi sedikit ramai.
Rasa penasaran dengan
30 paket sembako tadi siang belum
terjawab akan tetapi aku berusaha menahan rasa itu. Aku yakin anak-anakku tidak
akan menggunakan dengan cara-cara yang salah untuk mendapatkan dan menyiapkan
30 paket sembako itu.
Semenjak mereka lulus SMP, saat menjelang Hari Raya terbiasa diberi uang jatah untuk belanja
keperluan hari raya, yang setiap tahun pasti bertambah. Masing- masing diberi dengan
amplop tertutup dan masing-masing aku beri nama. Kami berbelanja bersama ,
tapi bebas memilih sesuai dengan yang
diinginkannya. Menghargai hak-hak mereka dengan caraku sudah aku tanamkan sejak
dulu. Saat ini mereka sudah besar dan semakin dewasa mereka semakin bijak,
semakin perhatian terlebih sejak ayahnya meninggal setahun kemarin. Semua
kebiasaan masih tetap berjalan seperti biasa, Tapi kehilangan ayah membuat
mereka menjadi orang yang paling siap dan sigap mengawalku dengan segala
kegiatanku.
Terkenang kembali saat ayah meninggal, kakak hanya merangkul lama tubuh
dingin itu tanpa suara tangis tapi aku
sangat merasakan betapa hancurnya perasaannya. Aku lihat mata merahnya saat
menciumi wajah ayah untuk terakhir kalinya. Tangannya memegang erat telapak
dingin sambil berucap pelan “Maafkan aku yah”...
Adik saat itu masih di
SMP, dia paling setia berjaga dirumah sakit, dia bawa buku dan seragam
sekolahnya agar bisa langsung berangkat saat pagi. Alasannya biar mama gak
sendiri saat menjaga ayah. Dia tidak bisa menahan perasaan kehilangan yang amat
dalam saat ayah meninggal.
“Ayah bangun yah...
tadi ayah gak bilang mau pergi, ayah mau nemani Bintang sampai lulus, jangan
pergi sekarang yah..”. sambil mengguncang tubuh ayah, seakan-akan bisa
terbangun lagi. Tubuhnya bergetar menahan gundah perasaannya.
“Bangun Yaah...bilang
Bintang suruh apa yah...Bintang mau yaah...” ,tangisnya belum bisa reda, belum
bisa menerima kenyataan klau ayah sudah tiada. Aku yang ada di sebelahnya,
segera kuraih tangannya dan aku rangkul agar emosinya segera reda. Aku bisikkan
“doakan ayah ya nak, biar ayah tenang , damai dan pasti tersenyum kalau lihat
kamu mendoakannya.
Butiran bening terasa
panas dipipi mengingat kejadian itu, Aku berjanji akan menjadi mama dan ayah
bagi mereka. Mengantarkan mereka sampai menjadi anak-anak yang sukses adalah
amanah terindah yang akan aku jalani di hari-hari selanjutnya. Tiba-tiba...
“Mama mengapa
menangis...?” tanya kakak sudah di depanku
“Ooh...nggak-nggak”
dustaku sambil mengusap kedua pipiku
yang basah
“Ma... teman-teman tuh
di depan, mereka pamit” sambil merangkulku
“Lho...gak taraweh
disini sekalian, kan gak boleh ke masjid saat pandemi covid-19” , ajakku,
Ramadlan tahun ini kita tarawehnya dirumah saja. Sesuai Protokol kesehatan
memutus mata rantai penyebaran Covid-19
“Terimakasih tante,
#beribadahdirumahsaja”, jawab Bayu
“Ok, terimakasih
bantuannya ya, salam untuk bapak dan ibu , hati-hati dijalan”, aku salami satu
persatu mereka bertiga.
Setelah menutup pintu
pagar, kembali kakak duduk di kursi sebelah kananku dan menatap mama sambil
minta maaf.
“Maafkan aku ma, karena
aku tidak menceritakan sebelumnya”, dia mulai mengawali.
Sebentar kemudian
adikpun mendekat dan berada disebelah kiriku. Mereka anak-anak yang sudah
besar, kakak sudah semester 6 menyelesaikan S1 program Informatika di
Universitas negeri di kotaku, dan adik sudah kelas X SMA Negeri 7.
“Ma,
tadi yang didistribusikan itu jumlahnya 30 paket, tiga kali lipat dari tahun
kemarin, alasannya: semakin banyak orang didepan kita yang membutuhkan uluran
tangan dan keperdulian orang sekitarnya. Mama selalu ajarkan kita perduli,
menolong yang lemah, menyantuni anak yatim dan itu sudah mama ajarkan sejak
dulu. Dan di Lebaran tahun ini, saat situasi seperti ini, mama tetap memberikan amplop jatah belanja
kami, walaupun ayah sudah gak ada. Setelah menerima amplop dari mama, aku sama
adik sepakat tidak membelanjakan uang itu untuk kepentingan baju hari raya.
Uang itu aku kumpulkan jadi satu di tambah uang tabungan kaleng yang ada di
kamar dibuka setiap tahun menjelang hari
raya. Akhirnya terkumpul sebanyak Rp 2.500.000,- dan dibuat belanja sembako
ditoko temanku Rehan yang tadi membantuku. Bukankah baju selalu mama belikan
walaupun bukan hari raya. Tapi bagi mereka yang terdampak wabah pandemi
covid-19 lebih membutuhkan ma...
Aku
bersyukur menjadi anak-anak mama, yang masih Allah limpahkan rizqi sehingga masih
bisa kuliah,bisa bersekolah, bisa makan dan minum yang cukup dan masih bisa
melaksanakan ibadah puasa ditengah suasana seperti saat ini. Ini untuk
mama....” dia sodorkan amplop putih yang pernah aku berikan minggu kemarin dan
tertulis THR Buat Mama...
Dengan
tangan bergetar aku buka amplop putih itu, semakin penasaran aku keluarkan
isinya . Isinya adalah kertas putih yg tertulis daftar nama penerima paket sembako yang 30
orang tadi siang. Kupandangi dua anak laki-laki di sebelahku dengan rasa
bangga.
Aku rangkul kedua anakku di kanan dan kiriku,
kupejamkan mataku, air mataku tidak
terbendung lagi. Rasa haru dan bangga terhadap sikapnya, keperduliannya. Ya
Robbb ... terima kasih. Jaga mereka
Allahu Akbar, Allahu
Akbar, Allahu Akbar...Lailaaha Ilallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar...Walillahilham...lantunan takbir
bergema diruang keluarga yang aku sulap menjadi mushollah kami bertiga, pagi
itu .Setelah sholat Id yang dipimpin oleh kakak, diakhiri dengan doa dan
ditutup dengan bermaaf-maafan di dalam rumah, sungguh lebaran yang istimewa
sepanjang hidupku.
Alhamdulillah....Ya Allah kau utus dua pengawal
kerren untukku
Teruntuk : Papatercinta Alfaatihah
Komentar
Posting Komentar